Artikel: Sebuah Wadah Memiliki Nama — Membaca Mei, Kotak, dan Riwayatnya

Sebuah Wadah Memiliki Nama — Membaca Mei, Kotak, dan Riwayatnya
Gallery Son Journal · tentang mei, kotak, raireki sebuah chawan, dan karya Kato Takaya
Di Barat, sebuah wadah adalah sebuah wadah. Namun di Jepang, satu chawan dapat memiliki tiga hal yang sering kali tak terbayangkan oleh orang yang baru pertama kali melihatnya—sebuah nama, sebuah tempat untuk berdiam, dan riwayat perjalanan yang telah dilaluinya. Memahami ketiganya berarti juga memahami bagaimana mengenali sebuah chawan yang autentik, dan bagaimana menaruh kepercayaan padanya.
Mei — memberi nama pada sebuah wadah
Sebuah chawan yang istimewa sering kali diberi mei (nama khusus yang diberikan kepada sebuah mangkuk teh)—sebuah nama yang hanya dimiliki olehnya. “Unohanagaki(卯花墻)”, “Chitose(千歳)”, “Fujisan(不二山)”. Nama itu dapat lahir dari bentuknya, dari keshiki pada lapisan glasirnya, dari suatu musim, atau dari sebaris puisi. Setelah menerima nama, wadah itu tidak lagi sekadar alat, melainkan menjadi sebuah keberadaan tersendiri. Yang memberinya nama bisa sang pembuat, seorang praktisi teh yang pernah memilikinya, atau seorang penikmat yang memiliki pandangan mendalam. Diberi nama berarti bahwa satu chawan itu telah diakui sebagai satu-satunya keberadaan individual di dunia.

Kato Takaya berkata, “Mei tidak langsung ditentukan. Setelah pembakaran selesai, saya menghabiskan waktu berhadapan dengan wadah itu, lalu menunggu sampai namanya perlahan muncul dari dirinya sendiri. Bagi saya, nama bukan sesuatu yang saya berikan, melainkan sesuatu yang saya dengarkan.”
Tomobako — tempat berdiam bagi sebuah wadah
Chawan Jepang disimpan di dalam kotak kayu kiri (kayu paulownia). Ini bukan sekadar kemasan. Kotak itu adalah “tempat berdiam” bagi wadah tersebut, sekaligus semacam paspor yang membuktikan identitasnya. Kiri dipilih bukan tanpa alasan. Kayu ini membantu mengatur kelembapan, tidak mudah didatangi serangga, dan memiliki titik nyala sekitar 400°C; bahkan bila terbakar, permukaannya menjadi arang dan lambat meneruskan panas ke bagian dalam—sehingga turut melindungi wadah dari api. Pada tutup kotak dituliskan hakogaki, yakni keterangan pada kotak. Isinya mencakup nama pembuat, mei wadah tersebut, jenis pembakarannya, kadang-kadang sebait puisi, serta cap merah sebagai tanda pengenal pembuat. Kotak yang ditandatangani sendiri oleh pembuatnya disebut tomobako (kotak kayu paulownia yang ditandatangani sendiri oleh pembuatnya). Kotak itu lahir bersama wadah, dan tetap menyertainya.

Kotak yang menuturkan raireki
Kotak tidak hanya menjadi milik sang pembuat. Kotak yang ditandatangani oleh seorang guru besar dalam tradisi teh disebut kakitsuke-bako. Kotak yang ditandatangani oleh seorang ahli yang telah menilai sebuah karya sebagai karya autentik disebut kiwame-bako. Kiwame-bako dapat dikatakan hampir menyerupai sebuah sertifikat autentikasi. Dan setiap kali kepemilikan sebuah wadah berpindah, pemilik baru dapat menambahkan satu kotak lagi. Dengan demikian, satu chawan ternama kadang memiliki dua lapis kotak, tiga lapis, dan terkadang bahkan lebih, yang saling bersarang satu di dalam yang lain. Pada setiap kotak tersimpan tulisan tinta dari tangan yang berbeda dan dari zaman yang berbeda—ibarat silsilah dari perjalanan yang telah ditempuh oleh wadah itu sendiri. Keseluruhan catatan sejak penciptaan, kepemilikan, pameran, hingga jual beli disebut raireki (riwayat perjalanan sebuah karya). Dalam sebuah chawan, justru kotak-kotak inilah yang pertama-tama menuturkan raireki tersebut.

Lalu, bagaimana memastikan keasliannya?
Ada satu hal yang perlu dikatakan dengan terus terang. “Kalau ada tomobako, berarti asli”—cara berpikir seperti ini agak terlalu sederhana. Sebuah kotak yang berwibawa kadang dapat menyimpan wadah yang biasa saja, sementara wadah yang sangat baik kadang justru berada di dalam kotak yang sederhana. Untuk memastikan keaslian, bukan hanya kotaknya yang dilihat, dan bukan hanya wadahnya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah tanda yang tertinggal pada kodai dan tanda tangan pada kotak saling bersesuaian. Baru ketika keduanya cocok, muncul dasar yang meyakinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, hakogaki palsu juga telah beredar luas, dan bahkan ada efek perubahan dalam pembakaran yang dibuat dengan mesin agar tampak seolah-olah terjadi secara alami. Karena itulah, pada akhirnya yang menentukan adalah mata yang mampu membaca wadah itu sendiri—mata yang mampu melihat kodai dan keshiki, sebagaimana pernah dibahas sebelumnya.
Tidak ada wadah tanpa nama
Pada satu chawan yang diletakkan di rak pajangan, ada hal-hal yang tak terlihat dari luar: sebuah nama, sebuah tanda tangan, dan tahun-tahun yang telah dilaluinya. Ketika semua itu diketahui, chawan tidak lagi tampak sebagai sekadar “benda”, melainkan sebagai suatu kehidupan yang memiliki raireki.

Kato Takaya menutup dengan berkata, “Ketika saya menuliskan nama pada kotak, mengikat talinya, lalu melepas wadah itu pergi, rasanya seperti sedang menulis surat kepada seseorang yang mungkin tidak akan pernah saya temui. Saya berharap, semoga wadah ini dapat hidup lama di dalam keseharian seseorang. Kotak itu juga seperti selembar kertas yang membungkus harapan tersebut.”
Chawan karya Kato Takaya, bersama mei dan tomobako masing-masing, dapat dilihat di Gallery Son.
